Introver

Disclaimer: Tulisan ini mengandung curhatan yang hqq. Sila skip jika tidak berkenan πŸ™‚

 

Sejauh yang aku bisa ingat, aku tak pernah melabeli diriku sendiri sebagai introver. Aku bangga menjadi ekstrover, dan tak pernah terpikirkan sekali pun bagaimana jika ternyata aku sebenarnya introver. Ya, mungkin bagi sebagian orang tidak penting untuk mengenali diri sendiri sebagai introver atau ekstrover sekalipun. Tapi mungkin aku termasuk dalam sekte yang percaya bahwa mengenali diri sendiri itu penting sebelum bersosialisasi dan menghadapi dunia luar.

Aku yang dapat terbuka dengan mudah bahkan pada orang-orang baru, aku yang lebih bersemangat ketika bertemu, berbincang, dan berdiskusi dengan manusia-manusia lain, aku yang harus menemukan sepasang telinga untuk mendengarkan keluh kesahku (meski Yang Maha Mendengar tak pernah menghianati) sebelum menentukan sebuah pilihan, sangat sangat sangat yakin bahwa aku salah satu anggota extrovert-rangers. Pun, untuk lebih meyakinkan diri aku mengikuti beberapa tes kepribadian yang dilakukan secara online. Seperti yang diasumsikan sebelumnya, hasilnya menunjukkan bahwa aku memang ekstrover.

Itu sebelum negara api menyerang. Ada satu kejadian yang membuatku menutup diri. Aku yang selalu bersemangat setelah bertemu banyak orang dan mendapat insight baru justru merasa kelelahan. Sangat lelah. Aku yang biasanya dengan mudah menjelaskan perihal diriku sendiri (untuk meminimalisir kesalahpahaman), justru merasa diam itu emas. Aku yang tak pernah tenang jika ada orang lain salah paham tentangku, waktu itu justru merasa yang sebaliknya. Feel free to judge me, hey. Aneh, memang. Aku merasa aku bukan diriku lagi. Hingga aku (karena perubahan yang menurutku cukup drastis ini), bertanya pada salah satu teman yang kebetulan psikolog. Apakah mungkin kepribadianku berubah? Oh, ya, benar. Sebelumnya aku sudah mencoba tes kepribadian lagi dan hasilnya berubah seratus-delapan-puluh derajat. Aku introver! Dan, jawabnya adalah mungkin. Sangat memungkinkan kepribadian seseorang berubah seiring berjalannya waktu. Ada banyak yang bisa memengaruhi perubahan kepribadian tersebut.

Telisik punya telisik, setelah berbincang panjang lebar aku menyimpulkan bahwa mungkin yang menjadi pemicunya adalah karena kejadian tersebut membangkitkan trauma yang pernah aku rasakan sebelumnya. Bukan trauma fisik, but mentally. Sekitar lima tahun lalu ada satu kejadian yang membuatku harus menjalani dua tahun tanpa bersahabat dengan siapapun. Krisis kepercayaan diri pun datang. Merasa tak berguna, tak berhak berteman dengan siapapun, hingga berujung pada kesimpulan untuk lebih baik sendiri. Literally sendiri. Ya, bagaimana hendak percaya pada orang lain jika percaya pada diri sendiri pun sulit?

Mungkin, bagi beberapa orang akan menganggap mudah masalah ini. Mungkin, bagi banyak orang solusi masalah ini pun tak sesulit yang aku tempuh. Tapi, apapun itu, please judge me as you want. I’m ok, definitely.

Ah, Alhamdulillah Allah memudahkan proses ini. Aku sepenuhnya sadar bahwa Allah sedang mengujiku yang belum lulus pada ujian sebelumnya. In case someone (or probably you) wanna know how Allah turns my such a broken heart, I repent and do dzikr every single time. I read “yaa muqallibal qulub” dua as dzikr as well. And magically, Allah soften my heart and I felt soo ikhlas.

Beberapa waktu setelahnya, aku menyempatkan “keluar” bersama teman-teman satu lingkaranku. Satu momen yang membuatku lebih menyadari bahwa aku tak sendiri, meskipun aku berusaha menjauh dari siapapun. Bahwa aku masih memiliki mereka. Bahwa mereka masih mendengarkanku. Ya, meskipun aku tetaplah bahan bully yang menyenangkan.

Terima kasih, kalian πŸ™‚

Advertisements

2 thoughts on “Introver

  1. Tipe tulisan langka nih dr Lego πŸ˜‚
    Hati kita yang mudah dibolak-balikkan menjadi suatu pertanda kalau kita butuh Allah. Senang tau kalau kamu sudah bangun dari jatuhmu πŸ™‚

    Positif terus yah

    1. Securhat-curhatnya tulisan del ini mah wkwk percaya ngga percaya sebelum nulis ini aku ngga bisa nulis :’) Makanya sebodo amat keluarin aja di sini wkwk
      Makasih udah baca anyway!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s