#2 Tujuan Hidup

Tak apa tersesat di jalan, asal jangan tersesat di tujuan. (Kak Prawita Mutia)

Berat rasanya jika sudah membahas tentang tujuan hidup, karena perjalanan dan perjuangannya seumur hidup. Beruntunglah orang-orang yang sudah mengerti tujuan hidupnya, sehingga jalan hidupnya akan lebih terarah. Ada tujuan pasti yang sedang menanti di ujung sana. Sebaliknya, sungguh disayangkan mereka yang masih sekadar “menumpang hidup” di dunia. Benarlah bahwa dunia hanya persinggahan sementara, tapi toh kita diberikan hak prorogatif untuk menentukan laju jalan kita agar tak sekadar mengalir. Ingat bahwa kita akan ditanya tentang waktu yang dihabiskan. Bukankah baik rasanya jika kita bisa menjawab tidak dengan kalimat, “Aku hanya mengikuti arus orang di sekitarku. Mereka bilang aku sebaiknya belajar, maka belajarlah aku. Mereka bilang, setelah lulus sudah sewajarnya aku bekerja, maka aku bekerja. Dan seterusnya.”

Lalu bagaimana agar tidak tersesat? Pegang erat buku panduan perjalanan kita. Selalu. Ingatkah bahwa di dalamnya kita sudah diberi petunjuk tentang mengapa kita diciptakan? Yap! Itulah tujuan hidup yang sebenarnya. Untuk menghamba.

Tak hanya itu, berusahalah untuk menjadi sebaik-baik hamba. Siapakah dia? Anfa’uhum. Itu bukan perkataanku, melainkan Rasulullah saw sendiri yang bersabda. Dan aku meyakini kalimat Baginda tersebut.

Satu pesan yang sangat sarat makna. Dulu aku tak begitu memahaminya. Justru menganggap pesan tersebut mainstream. Banyak teman-teman yang menjadikannya motto hidup, aku tak mengerti mengapa. Aku pikir, bukankah itu biasa-biasa saja?

Ah, ternyata aku hanya sok tahu. Nyatanya untuk menjadi bermanfaat tidak semudah yang diucapkan. Ada banyak proses yang terlibat di dalamnya, karena untuk menjadi bermanfaat juga memerlukan ilmu dan upaya yang sungguh-sungguh. Pun, cara yang bisa ditempuh amat beragam. Untukmu yang menyukai kegiatan sosial bisa bergerak melalui berbagai kegiatan sosial itu. Untukmu yang gemar menulis, berkontribusi untuk sesama juga bisa melalui tulisan juga karya-karyamu. Maka segala proses itulah yang menjadi misinya, yaitu menjadi sebaik-baik hamba.

Sayangnya, untuk menjalankan misi kita dengan optimal kita harus mengenali diri sendiri. Apa yang sebenarnya kita suka? Apa passion kita? Apa skill yang bisa kita tawarkan untuk menjadi manfaat bagi sesama?

Jika sudah menemukan jawabnya, bergeraklah dengan niat yang terpatri. Ingat, niat itu sangat rentan untuk berubah-ubah dalam perjalanan kita. Jangan lupa untuk terus memperbaharui niat dan mengingat kembali apa tujuan hidup kita. Yang tidak kalah penting, carilah teman seperjalanan yang bisa saling menguatkan. Kata Masgun, perjalanan akan selalu mempertemukan dua orng yang memiliki satu tujuan.

Jadi, berjalanlah bersama!

 

Lego –yang masih belum menemukan teman seperjalanan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s