Stop It!

Disclaimer: Tulisan ini merupakan kontemplasi atas apa yang terjadi pada teman saya yang terlalu sayang untuk tidak dibagikan.

Perempuan itu makhluk yang sangat-sangat sensitif. Ia sangat mudah tersentuh oleh kebaikan seseorang. Apalagi oleh perhatian-perhatian kecil yang diberikan orang lain, beuh, bisa langsung melting.

Kalau kamu laki-laki, berhentilah “berbuat baik” –yang berlebihan– pada perempuan-perempuan selain mahram kamu. Ya, saya tahu berbuat baik itu sudah mendarah daging. Pun tidak ada niatan buruk di hati, semata refleks untuk membantu yang kesulitan. Tapi, tampaknya kamu harus berpikir berulang kali sebelum terus-terusan memberikan bantuan. Uluran tanganmu –sekecil apapun itu– sudah pasti memberikan pertanyaan-pertanyaan cetek perempuan.

“Kok dia baik banget sama aku ya?”

“Kok dia perhatian banget ke aku ya?”

Daan banyaaak pertanyaan-pertanyaan nonsense sejenis. Ah, bahkan jika kamu mengambilkan pena yang tidak sengaja terjatuh saja bisa membuat perempuan memikirkan hal kecil itu seharian. Ya, perempuan memang se-perasa itu. Bedanya, ada perempuan yang bisa mengalahkan dan membuang jauh-jauh pemikiran itu, banyak yang justru terpedaya.

Kalau kamu memang laki-laki, jangan berani-berani mendekat pada perempuan! Jangan berbuat baik secara kontinu padanya. Jangan biarkan ia bergantung padamu. Ketahuilah, sekali ia menganggapmu terlalu baik padanya, lantas ia akan merasa berhutang padamu. Jika begitu, ia tak akan pernah bisa menjauh darimu. Ia akan merasa bersalah jika tak membalas kebaikan-kebaikanmu.

Terlebih jika kamu menyandang titel akhi, please stop it! Tidak ada yang namanya pra-taaruf. Jika kamu serius, datanglah pada walinya. Tak usah memberikan perhatian-perhatian tak penting padanya. Masa bodoh dengan segala pembelaan kalian, tolong berhentilah! Jangan membuat orang di sekitar kalian berprasangka terhadap kalian. Sepandai-pandai kamu menyembunyikan, orang lain bisa mencium “bau” kalian. Sepintar-pintar kalian mengelak, sikap kalian tak bisa membohongi orang lain! Terlepas dari itu semua, Allah Maha Tahu. Allah Maha Melihat yang tampak juga tak tampak.

Kalian boleh saja membatasi chat dengan jam malam, atau membudayakan adab berkomunikasi dengan lawan jenis. Tapi jangan lupakan bahwa chatroom selalu bisa menjadi tempat berkhalwat, guys. Batasi interaksi, batasi interaksi.

Perempuan itu bukan tipikal yang mudah melupakan. Bisa saja kalian memutuskan untuk berhenti berkomunikasi dan bertekad untuk membatasi jarak kalian, tapi apa yang bisa kamu lakukan jika kamu sudah terlanjur masuk ke dalam hatinya? Membuat pertahanannya runtuh! Lalu ia dengan mudah akan menggantungkan harapan-harapannya padamu. Lupa bahwa seburuk-buruk pengaharapan adalah harapan pada manusia.

Tak usah bermain api jika tidak mau terbakar. Tak usah berpura-pura mendekat jika memang tak menuju padanya. Tak usah berlagak menetap jika memang tak mau tinggal.

Please stop that nonsense, guys!

 

Jakarta, 15 Mei 2017.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s