Fitnah Perempuan (1)

Dulu aku begajulan. Eh sekarang juga masih deng wkwk. Aku bukan tipe ukhti-ukhti pendiam yang bisa sepenuhnya jauh dari peradaban #iykwim. Justru suaraku terdengar dimana-mana –sepanjang masih dalam batas yang diperbolehkan. Temanku yang laki-laki juga nggak kalah banyak, apalagi ada satu kepanitiaan yang mengharuskan aku menjadi kaum minoritas karena kebanyakan laki-laki. Eh, ini nggak lagi bicarain pergaulan gitu sih.

Dari situ bisa disimpulkan seberapa begajulannya aku dibanding akhwat seharusnya ya. Nah, dulu aku juga masih sering upload foto diri di media sosial, masih pakai foto yang menampakkan ini-lho-aku untuk display picture media sosial. Dulu aku beranggapan bahwa display picture memang seharusnya demikian agar orang-orang bisa mengenaliku. Terlebih karena ada beberapa orang yang menganggap aku laki-laki karena namaku. Juga foto-foto yang aku upload di media sosial, aku nggak terlalu mempermasalahkannya. Ya sudah sih, upload doang ini. Toh aku nggak cantik-cantik amat, followersku juga nggak banyak-banyak amat.

Tapi ternyata Allah ubah pemikiranku tadi hehe. Allah sayang banget sama aku. Allah kasih hidayah sedikit demi sedikit, satu per satu, agar aku bisa mencerna dengan baik.

Pertama, aku dibikin kagum sama akhwat-akhwat yang bisa menghindarkan wajahnya berkeliaran di dunia internet. Hacep banget nggak sih, masih ada orang-orang kayak gitu di zaman teknologi yang serba canggih ini. Masih ada mereka-mereka yang bisa menyembunyikan diri di era kamera ada dimana-mana. Yang bahkan ketika kamu iseng googling satu nama bisa langsung menemukan foto-foto orang tersebut dari zaman Friendster sampai sekarang. Selain itu, aku sadar bahwa tampilan media sosial di tiap gadget itu beda-beda. Kalau kamu buka media sosial di tab pasti ukuran picture yang ditampilkan lebih besar dibanding picture di smartphone, kan? Ditambah, display picture Whatsapp akan terlihat satu layar penuh ketika kita melakukan voice call. Aku sendiri kadang dibuat segan dan malu ketika melihat picture orang lain yang segede gaban di layar gadgetku, apa kata orang kalau aku share foto close-up kan? Setelah itu aku mulai menghapus foto-foto close-up di media sosial sekaligus berhenti pakai foto close-up untuk display picture yang bisa di-zoom out.

Walaupun sudah begitu, aku masih senang menggunakan display picture fotoku dan teman-teman atau fotoku yang tidak menampakkan wajah. Nakal, ya.

Alhamdulillah, Allah berkenan menegurku lagi. Nakal, sih wkwk.

Teguran yang kedua datang ketika aku share fotoku bersama keponakanku yang masih bayi. Di foto itu aku menggendong si Bayi tanpa melihat ke arah kamera, tapi badan tetap terlihat. Pun aku menggunakan foto itu sebagai display picture. Selang beberapa hari, ada sebuah notifikasi dari Instagram yang membuatku langsung panik. Seorang teman SMA (laki-laki) me-repost foto itu! Kzl nggak, sih?Kenapa repost segala, lha wong fotonya jauh dari kata artsy juga. Nah yang lebih membuat ketar-ketir itu caption postingan si Teman itu agak-agak mengundang kontroversi. Ih, kan makin bikin kzl! Satu hal yang langsung hinggap di pikiranku saat itu adalah fitnah perempuan.

Perempuan itu memang sudah digariskan menjadi ahli waris fitnah. No matter what!

Tanpa pikir panjang aku segera menegurnya dan menghapus foto-fotoku (yang sendiri) di media sosial. Tapi foto-fotoku bersama teman-teman tetap kubiarkan begitu saja. Aku juga masih berani share foto momenku bersama teman-teman, even ketika wajahku terlihat di sana. Nggak akan ada orang iseng me-repost foto kami yang bergerombol, bukan? Pikirku saat itu. Masih nakal.

Tapi ternyata Allah nggak membiarkan aku begitu saja. Allah masih sayaaaang banget hingga terus-terusan menegurku. Eh, akunya yang kelewatan ya berarti? Astaghfirullah 😦

Entah sejak kapan aku mulai follow akun @muslimah.sister di Instagram. Akun itu memang fokus berdakwah tentang akhwatee, sekaligus permedia-sosialan akhwatee. Tulisan yang beliau bagikan selalu bisa menyindirku –yang masih begajulan ini. Beberapa saat kemudian, Alhamdulillah Allah perkenankan aku berkenalan dengan beliau. Dan aku ngefens sama beliau 😦 ngefenss abis 😦

Nah, teguran selanjutnya Allah beri melalui perantara Mba Ratna, pemilik akun @muslimah.sister ini. Waktu itu aku baru saja posting fotoku bersama teman-teman BPH MK dan BPH PKL –kalau tidak salah. Tak lama kemudian Mba Ratna, melalui akunnya, menulis tentang foto-foto –juga segala macam postingan– di media sosial yang sangat berisiko untuk menjadi tali yang menjerat lehermu di akhirah. Aku lupa lengkapnya seperti apa, namun intinya demikian. Nggak ketinggalan, Mba Ratna tag akun instagramku di postingannya itu. Mungkin ini kebetulan, tapi aku kok nggak mau menyiakan kebetulan ini hehe. Duh men, kayak ditampar. Ya sih, setuju, segala amal tergantung niatnya. Tapi dengan fakta bahwa perempuan itu fitnah, aku pilih cari jalan aman sekaligus yang menenangkan. Ini bukan lagi masalah berani ambil risiko atau tidak, kan? Nyatanya, aku lebih merasa tenang ketika aku sudah menghapus foto-fotoku. Nyatanya, aku lebih tenang setelah berkomitmen sebisa mungkin untuk nggak jadi seburuk-buruk fitnah.

Setelah itu aku lebih berhati-hati dalam membagikan momen dengan teman-teman, juga dalam menggunakan display picture media sosial.

Last but not the least, aku pernah ditegur langsung oleh temanku (laki-laki), sebutlah X, karena aku menggunakan display picture yang bermasalah. Kzl juga nggak sih ditegur sama laki-laki karena display picture? Bikin panik juga. Tanpa bertanya macam-macam, saat itu juga aku mengganti display picture. Eh, padahal display picture yang aku gunakan waktu itu tidak menampakkan wajah atau full body, hanya ada sekelebat kerudung, rok, dan sepatu yang aku pakai. Setelah mengganti display picture itu aku memberanikan diri bertanya, membuang jauh-jauh prinsip “Tidak tahu sesuatu hal itu kadang lebih baik daripada tahu.” Mengapa memberanikan diri? Aku takut jawabannya akan keterlaluan. I mean, memang segitu parahnya ya display picture-ku hingga perlu diingatkan untuk menggantinya?

Tahukah apa jawabnya? “Selagi berpeluang untuk menimbulkan fitnah, lebih baik dihindari.” Oh men, fitnah dari mananyaaaa??? Hatiku berteriak. Aku masih nggak habis pikir. Temanku bahkan mengatakan, “Bukankah itu artinya dia yang tak bisa menjaga pandangan?” ketika aku menceritakan masalah ini padanya. Oke, satu excuse. Tapi aku tidak boleh membiarkan excuses itu berdatangan, bukan? Aku tidak boleh mencari pembelaan atas nasihat yang diberikan padaku. Terlepas dari apapun yang datang dari sisi X itu, aku juga tidak seharusnya menjadi biang masalah. Aku tidak boleh lupa sedikitpun bahwa akulah yang bisa jadi membawa fitnah, akulah si perempuan pewaris fitnah.

Jawaban pertanyaanku datang beberapa waktu setelahnya. Temanku yang lain berasumsi karena dari foto itu orang yang melihat bisa langsung tahu bahwa aku seorang muslimah –dengan hijab lebar, rok, dan kaos kaki. Oh, ternyata itu bisa jadi sumber fitnah. Catat, Go! Ah, aku pun baru benar-benar mengerti bahwa perempuan berhijab lebar pun tak akan aman begitu saja meskipun sudah ‘tertutup’. Si X ini suatu ketika pernah membagikan link yang membahas tentang hal ini. Ngeri men! Intinya sih, perempuan yang sudah berhijab syar’i atau bahkan niqabi itu nggak lepas juga jadi target oknum laki-laki nggak bertanggung jawab. Juga, ujian menjaga pandangan berbeda-beda setiap orang. Ada yang sulit menjaga pandangan dari perempuan yang berpakaian terbuka, juga banyak di antara mereka yang sedang berusaha menjaga pandangan dari perempuan-perempuan berhijab lebar.

Sejak teguran Allah datang satu per satu, aku selalu berupaya untuk mengingatkan saudari-saudariku yang masih berkutat di media sosial. Aku kagum banget sama Mba Ratna yang istiqomah menampar-nampar kami untuk menghindari fitnah. Tapi aku bukan Mba Ratna. Aku masih se-cemen itu hingga perlu berfikir banyak-banyak untuk membagikan pengalaman ini. Aku nggak mau ada saudariku yang mengalami hal serupa sih, semacam di-repost fotonya atau sebagainya. Karena itu seram, men! Eh, kecuali memang kita pengen terkenal. Tapi apalah artinya terkenal di bumi kalau di akhirat nanti kita kepayahan 😦 Kan nggak lucu kalau kita bersusah payah di akhirat karena foto-foto kita disalahgunakan orang lain 😦

Semoga Allah mengampuni.

Terima kasih untuk mereka yang Allah perkenankan menjadi perpanjangan tangan-Nya.

Jakarta, 27 April 2017.

Lego –yang masih belajar menjaga diri.

Ps. cemen: cetek mental

Pss. tulisan tentang fitnah perempuan di cerita setelah ini, Insya Allah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s