Maaf

Meminta maaf dan memaafkan adalah dua hal yang aku tahu tidak mudah untuk dilakukan. Perlu keberanian yang besar untuk sekadar mengucap maaf. Perlu kelapangan hati yang tak terhingga untuk sekadar memaafkan. Dari maaf, aku belajar tentang keikhlasan. Ketika meminta maaf atas kesalahan diri sendiri, aku belajar untuk ikhlas mengakui kesalahan dengan melepas ego yang selangit. Pun ketika memaafkan, aku belajar untuk mengikhlaskan kejadian-kejadian menyakitkan.

Katanya, ikhlas itu ilmu tingkat tinggi. Ikhlas juga tak bisa dilakukan hanya dalam berniat saja. Ikhlas itu harus kontinu, berkesinambungan. Tidak bisa sekarang mengaku ikhlas tapi besok masih mengungkit. Tidak bisa sekarang berkata ikhlas tapi hati ingin membalas. Yang ada, lisan membohongi hati. Yang ada, tak ada damai tercapai dalam diri.

Dari maaf aku juga mengerti bahwa diri ini perlu kedamaian. Hati dan pikiranku lebih dari layak untuk damai dengan mengikhlaskan segala yang menyakitkan. Toh, melepaskan dengan lapang dada atau menolak dengan hati yang keras tak akan mengubah keadaan bukan?

Tak peduli seberapa menyakitkan waktu-waktu yang harus dilalui, aku tahu aku selalu memiliki pilihan untuk ikhlas; memaafkan. Tak peduli seberapa menyebalkannya orang-orang di sekitarku, aku tahu aku hanya perlu berdamai dengan diri sendiri; memaafkan.

Jangan meminta maaf karena orang lain berkata demikian. Hey, tak ada urusannya orang lain dengan hatimu, bukan? Minta maaf lah untuk diri sendiri, atas nama rasa bersalah yang ada.

 

Aku,

kepadamu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s