#Kamu: Ada

Tepat setahun menjelang.

Hai, bagaimana perjalananmu kini? Maukah kamu ceritakan perjalananmu? Aku yakin ceritamu akan seru, seperti biasanya. Aku akan senang jika kamu berkenan.

Aku sudah lupa kapan terakhir kali kita bersua, lantas menceritakan apa saja. Tidak, aku tidak mengharapkan temu denganmu. Aku juga tidak rindu. Sama sekali tidak. Aku justru senang aku dan kamu tidak menambah jumlah temu, jelas lebih baik begitu. Kata orang, temu bisa jadi candu. Aku tak mau demikian.

Tahu kah apa yang aku takutkan akan pertemuan ku denganmu? Ya, aku takut aku akan jatuh. Berdebam dengan sempurna. Meski aku dan kamu sama-sama mengerti bagaimana sang Maha mengatur laku setiap hamba, toh aku dan kamu tak akan tahu bagaimana kedalaman hati seseorang. Aku dan kamu tak tahu di titik mana pertahanan masing-masing akan runtuh. Aku sungguh takut.

Izinkan aku berterima kasih padamu. Atas hadirmu yang tak pernah alpa. Atas uluran tanganmu ketika aku berkali-kali terjatuh dalam perjalananku. Atas nasihat yang selalu mengalir ketika aku harus menghadapi batu nan keras. Atas waktu yang selalu kamu sisihkan di tengah agenda nan padat. Atasmu yang selalu ada.

Bolehkah aku beritahu satu lagi rahasia kecilku? Aku takut setiap kali kamu datang dan mengulurkan bantuanmu yang tak pernah habis. Aku akan menangis lebih kencang ketika kamu mengetuk pintu itu. Pintu yang dinding-dindingnya aku coba pertahankan dengan segenap hati. Bukan, yang membuatku menangis bukan lagi masalah yang datang mendera. Justru hadirmu dan tanya “kenapa” darimu. Semua itu membuatku tenggelam dalam ketakutan. Benar kata salah satu penulis kesukaanku, someone just too good to be true, sometimes. Mungkin kamu lah salah satunya. Tapi, hey, aku tidak pernah menyesal kita pernah dipertemukan. Aku bersyukur atas berbagai pembelajaran yang datang padaku.

Aku tak akan bertanya mengapa kamu melakukannya, atau ada apa di balik semua itu. Aku tahu selalu ada alasan di balik segala sesuatu, tapi tak setiap tahu itu baik bukan? Ada kalanya tak tahu adalah yang terbaik. Ah, aku bahkan berharap tak usah kamu ceritakan pula alasanmu. Aku tak mau memikirkan kamu dan alasan-alasan di balik punggungmu.

Terima kasih karena telah ada.
Terima kasih karena meniada.

 

Jakarta.
Aku –yang segera berlalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s