Tinggal

Ditinggalkan atau meninggalkan.

Waktu lah yang akan mempergilirkan.

Tak ada yang lebih tersakiti, pun menyakiti.

Aku tidak pernah suka ditinggalkan. Lagipula, siapa yang akan menikmati menjadi yang ditinggalkan? Aku bisa sedih karena temanku menutup pintu di depanku, atau temanku menggunakan headphone/bermain smartphone ketika kami sedang bersama. Mungkin terlihat sederhana bagi orang lain, tapi tidak bagiku.

Empat hari lagi, aku -dan teman-teman- ditinggalkan. Iya, kakak tingkat kami di sekolah akan diberangkatkan menuju daerah penempatan. Sedih? Pasti. Kesal? Iya. Aku bahkan tak tahu mengapa aku bisa kesal. Toh, kepergian mereka bukan salah siapa-siapa. Kekesalanku juga tak akan menghasilkan apa-apa.

Kakak-kakak ini yang secara langsung “bersentuhan” denganku.

Ketika aku tak tahu sama sekali tempat aku akan merantau tiga tahun lalu, kakak-kakak ini lah yang mengulurkan tangan. Aku dan kakak-kakak ini berasal dari daerah yang sama, Kebumen. Tak alpa mereka menghubungiku, bertanya aku akan tinggal dimana. Bahkan mereka tak segan menawari aku untuk tinggal di kontrakan mereka -seberapa pun lamanya. Belum lagi masa-masa Magradika -semacam orientasi untuk mahasiswa baru di sekolah kami- mereka juga yang membantu mempersiapkan kebutuhan kami. Tak pernah mengeluh membantu kami, juga sekadar bertanya kabar kami di sela-sela kesibukan mereka.

Di tingkat dua -kini aku pejuang tingkat akhir, aku dibebani amanah di dua organisasi sekaligus, yaitu Rohis dan UKM Media Kampus. Berat? Sangat. Aku yang tak banyak memiliki pengalaman organisasi, bagaimana mungkin bisa mendapatkan amanah itu? Tapi nyatanya aku tidak sendiri. Aku memiliki kakak-kakak yang tak pernah pergi dari sisiku. Aku mulai mengenal dekat ketua keputrian Rohis kami saat itu, juga kakak senior di UKM Media Kampus. Nasihat demi nasihat keluar dari lisan mereka, membuatku belajar banyak. Mereka akan sigap merangkulku ketika aku kesulitan mengatur anggota-anggotaku. Mereka yang pertama siap memberikan saran ketika aku menemui jalan buntu. Mereka yang turut bahagia melihatku berhasil melewati masa-masa sulit. Bagaimana aku bisa melupakannya?

Pun di tingkat tiga, tak habis-habisnya aku merepotkan banyak orang karena amanah yang aku dapatkan di Praktik Kerja Lapangan dan STIS Berseri. Lagi-lagi, aku yang minim pengetahuan dan kemampuan harus bertarung dengan amanah yang tak mudah. Aku bersyukur bisa menyerap banyak hikmah atas perkenalanku dengan kakak-kakak ini. Apa yang telah aku dapatkan selama tingkat dua sangat membantuku menunaikan amanah di tingkat tiga. Akan tetapi, bukankah Allah akan menguji kita sesuai kemampuan? Sudah pasti masalah yang datang padaku lebih besar dibanding sebelumnya. Terlebih STIS Berseri merupakan komunitas yang baru dibentuk. Tapi Allah sungguh Maha Baik. Allah datangkan kakak-kakak yang tak habis mengingatkan, tak bosan mengulurkan tangan untuk membantu. Padahal mereka harus berkutat dengan berbagai kesibukan akademik di tingkat akhir mereka. Lucunya, Allah mengirimkan tak hanya satu kakak, tapi banyak.

Ada satu kakak yang hampir selalu membersamaiku. Dia berasal dari Kebumen. Kami juga memiliki UKM yang sama selama di STIS. Jadi tak heran jika aku memiliki banyak frekuensi pertemuan. Bahkan aku lah yang meneruskan amanahnya di beberapa UKM. Membuatku layaknya adik baginya. Kami sungguh berbeda satu sama lain, dia introvert sedang aku ekstrovert. Dia maha pendiam sedang aku sangat cerewet. Tapi banyak cerita yang membuatku berpikir kami sangat cocok. Pernah kami memakai baju stel yang sama persis ketika gathering UKM padahal kami tak janjian. Kami juga sama-sama suka matcha, juga hujan.

Kini aku telah ada di ujung perjalanan akademik diploma empat. Mereka sudah diwisuda pada 8 Oktober setahun lalu. Empat hari lagi, mereka akan diberangkatkan menuju daerah penempatan. Aku  tak lepas berkomunikasi dengan mereka. Sekadar menceritakan skripsiku yang terkadang bermasalah, tentang ujian komprehensif yang akan segera kami temui, atau meminta nasihat ketika aku menemui suatu masalah -apapun.

Aku sedih akan ditinggalkan. Mungkin aku juga takut merasa sendiri sedang biasanya aku memiliki mereka yang hampir selalu ada. Iya, masih ada teman-teman lain memang. Tapi aku tetap sedih. Lucunya, aku tak pernah bisa mengatakan aku sedih pada mereka. Alih-alih mengaku sedih, aku justru mengatakan aku kesal pada mereka. Aku akan lebih ketus, marah-marah tanpa alasan yang jelas. Aku tak mau tahu jam berapa mereka akan terbang meninggalkan Jakarta. Aku tak mau membicarakan perihal penempatan mereka.

Tapi, aku sungguh dapat mengambil hikmah dari perpisahan ini. Bahwa tidak ada yang akan benar-benar tinggal dan menetap. Hanya Allah satu-satunya yang selalu ada. Allah yang lebih dekat dari nadi, namun aku lebih banyak melupakan. Allah yang berjanji Allahu ma’anaa, tapi aku lebih sering tak menganggap adanya. Juga keberadaan diri kita di hati orang lain -dan sebaliknya- tak abadi. Tak butuh waktu lama bagi seseorang untuk lupa, tapi tidak dengan-Nya. Bagaimana mungkin Ia melupakan makhluk-Nya sementara Ia al-Khaliiq yang menciptakan kita?

Pun perpisahan itu sendiri bersifat sementara. Tak ada yang tahu kapan kita akan berpisah dengan sebenar-benar perpisahan; kematian. Aku mengerti bahwa perpisahan hanya soal waktu, sesiapa akan meninggalkan dan ditinggalkan. Sekarang aku ditinggalkan, namun bukankah giliranku untuk meninggalkan juga akan datang sebentar lagi? Lantas, pertanyaan selanjutnya muncul: apa yang sudah aku persiapkan? Beruntung jika aku berangkat penempatan nanti aku bisa membawa bekal hingga berkoper-koper. Tapi apakah aku akan seberuntung itu jika aku berpisah dengan dunia?

 

Lego,

yang akan ditinggalkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s