Senyum

Ada satu kejadian yang cukup membekas kemarin siang. Ketika itu aku dan teman kost ku hendak menunaikan shalat dzuhur. Biasanya, kami selalu berjamaah bertiga. Tapi, salah seorang di antara kami –si kecil– masih tertidur bahkan setelah kami berdua selesai sunnah qabliyah.

Beranjak lah temanku untuk membangunkan si kecil. Si kecil memang sangat sulit dibangunkan, dan tak bisa langsung bangun segera setelah ia membuka mata. Jadilah kami menunggu lebih lama.

Tak kunjung bangun, temanku menghampiri si kecil lagi. “Nanti saja jam satu aku sholatnya, Kak. Ditinggal saja.” Sayangnya, kami lumayan strict sehingga tak bisa membiarkannya. Temanku membujuk si kecil untuk tetap ikut berjamaah. “Dua puluh tujuh derajat, lho!”

Tahu tidak? Bangun lah si kecil meski dengan menggerutu, terus menerus berkata tidak-suka.

Aku yang terganggu dengan gerutu si kecil bertanya pada temanku, apakah tak apa. Jelas-jelas si kecil ngambek. Lantas temanku menjawab, “Tak apa. Tak apa si kecil menggerutu di sini, bukan di neraka. Tak mengapa si kecil tak suka pada kita, nanti dia akan berterima kasih di surga.”

Aku terdiam. Benar juga.

Setelah salam, biasanya kami bersalam-salaman. Saat itu, aku memancing si kecil untuk tersenyum. Aku hadiahi si kecil senyum yang lebar, pertanda aku merasa bersalah. Masalahnya, jangankan balik tersenyum. Memandang mata saja si kecil tak mau. Aku mencandainya, “Aku kan sudah senyum, masa tidak dibalas? Katanya kalau bersalaman sambil tersenyum itu…” Tak habis kalimatku, dia memotong.

“Tunggu. Aku bingung. Aku ingin tersenyum, tapi senyumku jadi palsu.”

Tahukah bagaimana rasanya dikatakan demikian? Nyess. Dingin. Di hati.

Setidaknya dari kejadian senyum-palsu-si-kecil itu aku bisa belajar. Bahwa Rasulullah memberi teladan murah senyum bukan tanpa alasan. Bahwa senyum pada saudara dikatakan sadaqah juga bukan tanpa sebab. Bahwa berjabat tangan sembari melempar senyum dapat menggugurkan dosa juga bukan tanpa sebab.

Aku mengerti bahwa orang lain tak pantas mendapatkan wajah muramku. Orang lain juga tak perlu tahu apa yang sedang terjadi denganku hingga mereka harus melihat wajah murungku. Tak hanya itu, hatiku juga berhak mendapat rasa damai. Nah, urusan hati itu murni urusan dengan diri sendiri, bukan. Setidaknya dengan berusaha untuk selalu ikhlas dan melapang, aku bisa bersabar. Dengan begitu, aku bisa menyapa saudaraku dengan wajah riang, menyala terang.

Aku juga sekarang mengerti, bahwa seandainya aku bersusah hati, tak mengapa berpura-pura senyum. Tak mengapa memaksakan bibir untuk tersenyum, toh lama-kelamaan senyum itu bisa mengembang dengan sendirinya. Mengapa? Karena melihat orang lain tersenyum pada kita akan menimbulkan rasa bahagia. Sedang bahagia itu selalu bisa menular.

Tersenyum lah, maka dunia akan tersenyum padamu 🙂

 

Jakarta, 8 Februari 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s