#Kamu: Pertemuan

Hai, kamu! Apa kabar?

Izinkan aku bercerita tentang pertemuanku dan kamu. Pertemuan yang sudah lebih banyak aku lupakan daripada ingat. Tak mengapa, aku masih memiliki satu rahasia kecil yang tak pernah aku ceritakan pada siapapun sebelumnya –juga kamu. Akan aku ceritakan rahasia itu sekarang.

Tiga tahun lalu, aku baru mulai belajar menulis. Menulis tentang apapun. Tentang pagi yang dengan semangat menyambut hari, tentang siang yang garang dan menantang, tentang sore yang teduh dan menenangkan, juga tentang malam yang menyelimut hangat.

Beberapa bulan kemudian, aku mengenalmu. Aku bisa melihatmu dari kejauhan. Sangat jauh. Seolah kita berada di dunia yang sama sekali berbeda. Aku tak peduli siapa kamu. Tak penting, gerutu ku saat itu. Kamu sama saja dengan manusia-manusia lain di sekitar ku. Jika tak ada yang memaksaku untuk lebih memperhatikan tentangmu, aku tak akan mengenalimu.

Dua tahun lalu, aku memberanikan diri membuat laman khusus untuk mewadahi tulisanku. Iya, aku memilih salah satu laman dimana ada kamu di sana. Aku baru tahu beberapa waktu kemudian, tentunya. Kamu lebih dulu membuat akun dan menulis dengan aktif di sana.

Tahukah? Nama akun yang kamu gunakan sama persis dengan nama akun yang kubuat. Nama itu pula yang kugunakan selama ini untuk menamai folder tulisan-tulisanku di laptop. Lucu, bukan?

Aku harus mengganti nama akun ku sendiri karena kamu telah lebih dulu menggunakannya. Curang, kataku dalam hati. Aku sudah berganti nama akun lebih dari lima kali, gara-gara kamu. Aku tak pernah nyaman dengan nama akun ku sendiri karena mu. Terima kasih, kamu.

Beberapa saat setelah aku memiliki akun di laman tersebut, kamu mengenalku –aku memperkenalkan diri. Tak ada yang istimewa dengan itu. Aku dan kamu hanya saling mengenal, tak benar-benar mengenal satu sama lain. Hingga kini.

Kamu selalu mengatakan kamu mengenalku. Tapi tolong, jangan sepercaya diri itu. Kamu tak mengenalku sama sekali. Bahkan aku terlanjur menciptakan dinding yang amat kokoh di antara kita. Tak sadar kah?

Dinding itu bahkan masih berdiri utuh hingga kini, dua bulan setelah kamu pergi. Waktu akhirnya mencipta jarak untuk kita. Baguslah, sangat memudahkan upayaku untuk bertahan. Kuda-kudaku hampir saja goyah, dinding itu di ambang batas! Nasihat Abdullah, temanku, tampaknya benar, seharusnya kita pertegas batas, mengurangi interaksi. Ditambah pemahaman bahwa aku -dan kamu- hendaklah berjalan di arah yang tepat.

Aku bersyukur tak banyak waktu yang aku dan kamu habiskan bersama. Pun tak banyak cerita yang sempat terkisah antara aku dan kamu. Hei, siapa sangka perpisahan aku dan kamu menjadi mudah karenanya? Aku kira perpisahan ini akan sulit dan mengundang banyak air mata. Ternyata aku salah. Aku sama sekali tak menyesali kepergianmu, juga pertemuan ku denganmu. Tak masalah jika nanti kamu akan melupakanku setelah kita menua. Karena aku tahu, setiap pertemuan akan selalu terkenang di kedalaman hati.

Setiap pertemuan akan selalu terkenang. Begitu juga pertemuan ku denganmu.

 

Jakarta.
31 Januari 2017.
Aku –yang berdamai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s