Syukur

Suatu ketika, aku menghadiri acara perpisahan dengan kakak-kakak yang akan segera mengabdi ke daerah lain. Sebagaimana biasa, kami memilih tempat makan yang menunya tak hanya ramah di lidah, tapi juga di kantong. Sesampainya di tempat yang dituju, kami harus masuk waiting list karena ternyata tempat makan tersebut, aduh, ramai sekali.

Tak lama, kami mendapatkan meja panjang yang letaknya di ujung, tepat di depan tempat menunggu abang gojek yang memesan makanan di sana. Awalnya, aku tak terlalu memikirkannya, karena sangat wajar begitu banyak driver gojek yang bertebaran dan terlihat mengantri di tempat-tempat makan sekarang ini. Bukan hal yang aneh lagi jika suatu franchise fast food atau resto terlihat menghijau karena banyaknya jumlah beliau-beliau. Iya, era digital selain memudahkan juga tampaknya semakin memanjakan orang-orang yang “mager” atau malas gerak. Tak jarang aku melihat abang-abang gojek mengantri hingga hampir satu jam untuk memesan makanan sembari saling mengobrol apa aja yang dipesan customer beliau -untuk mengisi waktu menunggu.

Tak ada raut kesal atau mengeluh tampak dari wajah-wajah itu, padahal selama menunggu harus berdiri, padahal beliau-beliau ini sudah lumayan sepuh. Salut.

Aku masih fokus dengan makanan yang ada di hadapanku, hingga seorang kakak berkata, “Kita pesan makanan buat dimakan sendiri.” Aku -dan adik di hadapanku- hanya memerhatikan, masih meraba-raba ke mana arah bicara kakak ini. Maafkan, Kak.

“Iya, kita pesan makanan untuk kita makan sendiri. Nah bapak itu pesan untuk dimakan orang lain, cuma bisa lihat kita makan enak.”

Seketika aku tidak bisa merespons. Lebih tepatnya langsung berkontemplasi. Betapa syukur itu mudah diucapkan tapi belum tentu diresapi. Betapa syukur sangat dekat dengan lisan tapi belum tentu hinggap ke hati.

Sangat penting bagi kita untuk peka terhadap sekitar. Pun sangat penting untuk selalu melembutkan hati. Karena hati yang lembut akan mudah menangkap hikmah yang bertebaran.

Setiap pertemuan, juga perpisahan, selalu bisa menjadi pelajaran. What a lyfe!

Jakarta, 19 Januari 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s