Menyesal

Suatu waktu kau bertanya, “Adakah kau menyesal atas pertemuan yang telah Tuhan atur untuk kita?”

“Tidak. Sekalipun tidak.” Kita duduk bersisian, menikmati senja yang menjingga di batas cakrawala. Lengkap dengan pantai yang tenang. Desir air laut membuat tenteram.

“Meskipun berkali-kali aku menyakitimu?”

“Iya. Meskipun aku harus melalui saat-saat sulit itu sendiri.”

“Meskipun aku terus membuatmu menangis?” Aku menatapmu, heran. Kurasa rona wajahku sudah memerah. Ah, tak apa. Senja pasti bisa mengaburkan warnanya.

“Aku tahu kau selalu menangis sehabis perjumpaan kita -yang selalu tanpa sengaja. Aku tahu kau selalu berusaha menghindar dariku setiap aku menginginkan satu saja waktu untuk bertemu denganmu. Aku tahu kau berpura-pura acuhkanku setiap kita berpapasan. Aku tahu kau berpura-pura tak pedulikan setiap pesan yang kukirimkan. Aku tahu kau kau selalu sembunyikan rindumu dalam nada kesal. Aku tahu kamu berpura-pura menjadi kuat, tak pernah lagi kautampakkan keluh-kesahmu. Tapi, ingatlah bahwa kau tak pernah bisa berpura-pura untuk tak khawatirkan aku.”

“Aku tak sekuat yang kau kira, memang. Pun, aku tak sebodoh itu untuk tetap di sana. Sudah sejak lama aku memutuskan untuk beranjak. Kaulah yang menjadikannya sulit. Kau terus-terusan datang setiap kali usahaku hampir berhasil. Tak tahukah?”

“Aku tak tahu. Maafkan aku.”

Senyap. Separuh mentari telah dipeluk semesta.

“Lantas apa yang membuatmu tak menyesal atas pertemuan kita? Aku tak mengerti.

“Ada banyak yang bisa aku pelajari dari setiap waktu yang kita lalui bersama. Tentang mimpi, cita-cita, serta tujuan yang seharusnya. Tak sedikit pun terlintas rasa sesal. Sakit, memang. Sulit, sangat. Tapi aku mengerti bahwa setiap pelajaran yang Tuhan berikan  datang dengan paket lengkap; kesenangan juga pedih itu sendiri. Aku tak bisa hanya bersyukur atas kesenangannya saja. Mereka satu paket lengkap, bukan? Terima kasih telah menjadi bagian dari cerita ini.”

“Hey, kau tak serapuh yang kau pikirkan. Aku tahu itu.”

“Berhentilah berbicara demikian. Kau tak mengenalku. Berhentilah berpura-pura mengenalku, kumohon. Biarkan aku pergi sepergi-perginya. Aku tak mau mendengarkanmu lagi. Pun aku tak mau tahu lebih banyak tentangmu. Jangan datang lagi.”

“Maafkan aku.”

Jakarta, 7 September 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s