Pigura

“Apakah kau bahagia?” Hening. Hanya tatapmu yang menjawab tanyaku. Iya, tatapanmu selalu meneduhkan. Selalu berhasil membuatku lebih tenang ketika kau menatapku sebagaimana kini. Tidak dingin, pun tidak membuatku tertekan.

“Aku iri melihatmu. Kau bisa tersenyum sepanjang waktu. Seolah semua beban di bahumu ringan saja. Kau bisa tersenyum, lepas.” Kau masih saja diam. Agaknya kau tidak setuju dengan pernyataanku, bukan? Aku tahu, lebih dari tahu bahkan. Kau tak pernah suka melihatku jatuh, seperti ini. Kau, dengan pesan-pesanmu yang sarat petuah, selalu bisa menemukan tempatku terpuruk. Dan magisnya, hal itu membuatku lebih lapang. Selalu.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku seharusnya bisa menguat. Aku akan berdiri lagi dan terus berjalan dengan bahu lebih tegak, dengan langkah yang lebih mantap. Kau akan mengatakan hal semacam ini, bukan?” Aku tak sanggup lagi menatapmu. Kupalingkan wajah ke bingkai jendela, menatap biru langit. Berharap bisa tenangkan riak dalam hati.

“Rasa bersalah seringkali lebih terasa menikam dibanding tersakiti oleh orang lain, kataku saat itu. Kau masih ingat?” Ya, katamu. Ah, akhirnya kau tak hanya diam. “Pun kini. Perasaan tak berdaya karena terus-menerus terhempas tak kalah menyesakkan. Apalagi jika penyebabnya masih saja hal yang sama. Satu kata itu.” Aku mendengus, kesal pada diri sendiri. Awan di atas atap mulai bergulung. Abu-abu mengaburkan biru langit. Desah angin membuat suasana antara kita semakin dingin. Dan kau masih bergeming.

“Kau benar. Kau selalu benar. Aku memang kuat. Buktinya aku sudah berjalan sejauh ini, bukan? Aku memang kuat…” Pandanganku mulai mengabur. Air mata yang menggenang tak mampu lagi kutahan. Kubiarkan menghilir di pipi, bermuara di lantai marmer putih. Rintik hujan berjatuhan satu per satu, seolah menikmati proses terjatuh itu sendiri. Terlepas bebas dari gumpalan kapas awan, menari-nari di udara, lantas menjumpa genangan demi genangan.

Menangislah, katamu, menangislah… Tapi jangan lupa untuk menguat setelahnya. Bahwa Allah pasti menolongmu. Jadilah engkau yang tangguh, Puan.

Aku tegakkan lagi pandanganku, kutujukan sepenuhnya padamu. Ada senyum dan ketulusan yang terpancar dari kedua mata hitammu. Ya, kamu yang sedang tersenyum tanpa beban di bingkai persegi panjang. Kamu, aku yang terkotakkan dalam pigura.

Jakarta, 13 Juli 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s