Menjadi Dewasa

“Mbak, mengapa semakin kita bertumbuh, semakin besar juga masalah-masalah kita? Aku tidak suka.” Lia -si bungsu- bertanya. Lebih tepatnya seperti meratap. Raut wajahnya mendung. Duduk malas-malasan di hadapku. Ya, pasca ujian akademik yang melelahkan, ditambah setumpuk tugas dari amanah baru nampaknya cukup membuat Lia kalut.

Aku memperbaiki posisi dudukku. Meletakkan buku laporan keuangan suatu kegiatan yang harus kuperiksa, menundanya sejenak. Satu kebiasaan kami ketika mengerjakan tugas atau belajar bersama. Lia akan bertanya suatu hal yang cukup “serius”, lantas kami akan berdiskusi tentang banyak hal. Mulai dari pemrograman Pascal, kalkulus, resep masakan harian, cara berinteraksi dengan lawan jenis, kegiatan organisasi, serta mimpi kami masing-masing. Tak jarang pertanyaannya cukup mengagetkanku. Lebih karena membuatku juga ikut memikirkan banyak hal. Inilah yang aku suka. Aku bisa belajar banyak dari pertanyaan-pertanyaan Lia.

“Seandainya kamu memiliki sebuah rumah besar yang tiap ruangnya begitu lapang. Mana yang kamu pilih, Lia? Mengisi sekadarnya saja atau memanfaatkan setiap inci ruang untuk menyimpan perabotan yang lucu? Tak harus penuh, tapi tertata dengan baik.”

“Hmm…” Tampaknya Lia mengerti benar perumpamaan yang kupilih. Aku lebih sering menggunakan perumpamaan semacam ini untuk menjelaskan setiap pertanyaan Lia. Entah mengapa. Aku ingin mengajaknya ikut berpikir. Karena tidak setiap pertanyaan berjodoh dengan jawabnya, bukan? Lebih banyak tanya akan terjawab melalui pemahaman diri.

“Tapi, Kak, akan membutuhkan tanggung jawab yang lebih besar setiap aku akan mengisi rumahku. Dan itu pasti sangat berat, Mbak.” See? Lia sudah sampai pada kesimpulannya sendiri.

“Memangnya kamu mau tanggung jawab kamu bagaimana, Lia?”

“Kecil saja, seperti anak kecil. Mereka bebas bermain-main, berlarian ke sana kemari tanpa memikirkan banyak hal.” Lia mendengus. Pun aku. Lantas menambahkan senyum -memaklumi- di ujungnya.

“Setiap orang mempunyai masalahnya sendiri, sebesar kesanggupannya pula. Allah tidak akan memberi beban di luar kemampuannya, kok, Lia. Nikmati setiap prosesnya. Ada saatnya waktu akan membenturkanmu pada masalah, membuatmu jatuh. Tapi ingatlah, waktu tidak akan berhenti berdetik. Tak mengapa terjatuh, asal jangan lupa untuk kembali melenting…”

“Lia, teman Mbak pernah bilang, “Rasulullah mengibaratkan amanah sebagai musuh. Jangan lah kamu meminta untuk dipertemukan dengannya. Namun jika memang kamu bertemu dengannya, hadapi lah ia. Jangan lari darinya.” Ayo, semangat Lia. Menangkan pertarunganmu sendiri. Kamu sering bilang ke Mbak, Allah itu sayang sama Mbak sehingga Allah kasih masalah yang sedemikian pelik untuk Mbak hadapi. Pun kamu, Lia. Kamu lebih kuat dari Mbak.”

“Doakan Lia, Mbak. Doakan Lia bisa bertumbuh dan menjadi lebih dewasa…” Muka Lia memerah, lebih bersemangat. Senyumnya mengembang, malu-malu.

As always, adikku. Jangan lupa untuk mengingat tujuanmu dan memperbaiki niat di setiap langkahmu, ya.”

“Mbak ngomong-ngomong siapa yang menasihati Mbak seperti tadi? Teman Mbak yang itu?”

Pletak… Sebuah pensil sukses mendarat di pojok kamar. Gagal mengenai target -si Bungsu yang jahil.

Jakarta, 02 Agustus 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s