Fajar Vs Senja

“Aku lebih suka fajar. Fajar selalu terlihat menenangkan.” Katamu saat itu. Berdua, kita menatap potongan senja di pantai. Tempat kita menghabiskan masa kecil kita. Duduk beralaskan sandal masing-masing, merasakan hembusan angin pantai yang basah, menyaksikan deru ombak memecah pelan.

“Kamu masih sama. Lucu, seperti dulu. Mana ada orang yang mengagumi fajar saat senja paling indah tersaji di depan mata. Kita hanya tinggal menikmatinya. Mengapa masih berandai-andai?”

“Aku tidak berandai-andai. Aku hanya sedang mengungkapkan kekagumanku pada fajar. Fajar menghangatkan, mengantarkan mentari pada bumi yang dirindunya sepanjang malam. Indah, bukan?”

“Tapi, senja juga ajarkan kita janji matahari pada bumi akan esok hari.” Aku enggan berkata lebih banyak. 952 senja kita habiskan dengan bahasan yang sama, fajar versus senja. Aku tak mau menyiakan yang terakhir kalinya. Ya, senja terakhirku -kita- di sini. Esok, kita akan menjemput mimpi masing-masing di bumi rantau.

“Kau tahu, fajar berikan kita ketulusan. Ketika bumi dan matahari belum berjodoh dengan waktu, menunggu dan bersabar ketika malam adalah usaha terbaik yang mereka lakukan. Dan, tadaa! Fajar mempertemukan mereka dengan anggun nan megah. Pertanda akhir penantian mereka.”

Aku tenggelam dalam analogimu. Tenggelam dalam arti harfiahnya. Aku sama sekali tak mengerti. Aku tak berusaha menerjemahkan kalimatmu. Aku takut. Aku tak berani sama sekali untuk mencernanya, karena aku sungguh mempercayai setiap kata-katamu.

Pada senja ke-769, katamu aku lah si Bumi dan kamu si Matahari. Entah mengapa. Bahkan hingga sekarang kamu masih rahasiakan alasannya. Tapi tak apa, aku suka. Bumi cenderung biru, bukan? Aku suka biru, sesederhana itu.

Matahari kian menjingga, sepotong demi sepotong tenggelam di peraduan. Sedang kita, terpekur tanpa kata. Padahal masih banyak tanya bergantungan dalam kepalaku. Mungkin kamu juga, entahlah aku tak tahu. Tapi kita sepakat memilih diam. Bahwa tidak semua pertanyaan pantas untuk ditanyakan. Bahwa diam dan menunggu barangkali bisa bertemu dengan jawab itu sendiri, tanpa dipertanyakan.

Purwokerto, 12 Juli 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s