Bagaimana Jika (2)

Jakarta, 27 Februari 2015.

“Aku tahu apa yang kamu rasakan. Kamu pasti kecewa. Sangat kecewa, malah.”

Ya, tak usah kukatakan pun kamu selalu tahu apa yang terjadi denganku. Bahkan hanya dengan melihat kusutnya ekspresiku saat mendatangimu, kamu sudah mengerti. Satu kalimat pembuka dariku sudah lebih dari cukup untukmu. Aku hanya perlu mengatakan “Aku sedih” padamu dan kamu segera memelukku. Membantuku memeluk setiap keping sedu sedanku.

Sebuah kabar tentang dia dan dia kuterima siang itu, aku tak tahu lagi betapa sakit yang kurasa. Air mata tergenang, kaki serasa tak berdaya, dan juga perut mual. Tak kupedulikan tatap mata orang lain yang melihatku menahan tangis sepanjang perjalanan pulang ke kos. Atau matahari terik yang paling banyak dihindari penduduk Jakarta. Untungnya kuliah siang itu telah berakhir. Aku hanya ingin menenangkan diri dalam pertemuanku dengan-Nya. Sesegera mungkin.

“Tak apa. Sungguh. Tidak semua hal berjalan sesuai keinginan kita. Kita tak bisa menduga apa yang ada di ujung perjalanan kita, bukan? Tapi aku tahu kamu percaya seutuhnya bahwa semua ini akan bermakna.”

Ah, kamu selalu menganggap semuanya baik-baik saja. Tak ada kalimat selain “Tak apa” yang kau berikan padaku setiap aku datang dengan setumpuk kegundahanku. Aku kini mengerti maksud ucapanmu dulu. “Kata guruku, aku tidak boleh menasihati orang yang sedang jatuh cinta. Karena sudah pasti tak akan didengarkan. Hahaha.”

Mungkin langit juga turut menertawakan kebodohanku ini. Lihatlah, awan bergulung dengan megah namun enggan turunkan hujan. Matahari bersinar garang. Seolah mengolok keadaanku kini.

“Setiap orang mempunyai masanya sendiri. Kamu boleh saja menangisi jatuhmu kini. Tapi, usah terhanyut. Tak perlu kukatakan pun kamu pasti mengerti, bukan? Bahwa Allah pasti menolongmu. Pertolongannya amatlah dekat. Suatu saat nanti, kamu pasti akan bisa tersenyum mengenang saat-saat ini.”

Lagi-lagi kamu benar. Aku tahu benar akan hal itu. Sama halnya aku mengerti akan resiko dari rasa ini. Juga berbagai seharusnya-seharusnya yang dibisikkan kepalaku sendiri. Seharusnya aku tak boleh terjatuh. Seharusnya aku tak usah dengarkan kata orang lain. Seharusnya aku bisa membangun bentengku lebih kokoh lagi. Seharusnya aku bisa menutup pintuku lebih rapat. Seharusnya… Aku tergugu dalam dekapanmu.

“Tak apa. Kamu tidak salah. Sama sekali tak apa. Tak ada salahnya mencintai, sepanjang kamu tidak melupakan cintamu pada-Nya dan menjaga interaksimu dengan-Nya. Percayalah bahwa takdirnya amat indah. Tak apa. Kau akan baik-baik saja.”

Kau akan baik-baik saja.

Kau akan baik-baik saja.

Aku akan baik-baik saja.

***

…bersambung

 

Jakarta, 15 Juli 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s