Mimpi Naura

Rabu, 4 Mei 2009.

“Hei, Biru!” Aku tak sabar untuk berteriak memanggil laki-laki itu, meski kulihat ia sedang sibuk memasak sarapan di dapur. Biru menoleh dan melambaikan tangannya padaku. Biru memang selalu memasak makanannya  sendiri. Ia tidak suka makan di luar. Lebih higienis, katanya. Oleh  karena itu dapur kecil di rumahnya tampak terawat meski di rumahnya tak ada pembantu. Sebagai seorang wanita, kuakui ia lebih jago memasak daripada aku sendiri. Tak jarang pula aku memintanya memasak jika kebetulan aku mampir ke rumahnya atau Biru bertandang ke rumahku. Sebagai gantinya, aku juga tidak keberatan untuk mentraktir Biru makan di luar.

“Hmm, bau wangi masakan apa ini, Biru? Kelihatannya aku datang di saat yang tepat, bukan?”

“Halo Naura, selamat pagi. Ya, aku selalu tahu kau akan datang dengan perut kosong. Apakah ada berita menarik yang kau bawa pagi ini? Kulihat kau sangat bahagia hari ini. ”

“Ya. Penelitianku berhasil diselesaikan, Biru. Para penguji sangat puas dengan hasil penelitianku. Bahkan aku lulus dengan nilai terbaik dengan penelitian itu. Aku sangat berterima kasih kepadamu dan anak-anak.”

“Oh ya? Wah, selamat, Naura.  Apa kau sudah bertemu anak-anak? Mereka pasti senang untuk mendengar kabar kelulusan kakaknya ini,” katanya sambil memindahkan nasi goreng ke piringku. Aku beranjak menyiapkan dua cangkir kopi. Kami memiliki kebiasaan meminum kopi setiap pagi. Jika Biru yang memasak, maka tugasku adalah menyiapkan kopi.

“Aku berniat melakukannya hari ini. Aku juga sudah menyiapkan kejutan untuk merayakan kelulusanku bersama mereka. Apa kau bisa menemaniku?” kataku sambil mulai makan.

Hubungan kami? Oh, tidak tidak. Tentu saja kami tidak pacaran. Biru adalah salah satu sahabatku. Aku mengenalnya beberapa bulan yang lalu, ketika ia bersedia membantuku melakukan penelitian tentang perkembangan anak-anak dengan keterbatasan fisik dan mental di suatu yayasan peduli anak-anak. Penelitian ini merupakan syarat kelulusanku menjadi sarjana Psikologi. Biru, yang merupakan pemilik yayasan tersebut, tak segan-segan menemaniku selama aku melakukan penelitian meskipun aku tahu Biru pasti sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Biru adalah tipe orang yang ramah, mudah bergaul dan sangat ringan tangan. Mungkin karena itulah aku merasa cocok dengannya. Tak lagi hanya berhubungan dengannya untuk urusan penelitianku.

Sampai saat ini Biru masih saja belum memiliki pasangan. Padahal Biru adalah pengusaha muda yang cukup sukses. Ditambah dengan kenyataan bahwa ia memiliki postur tubuh yang lumayan disukai wanita. Mungkin Biru hanya tidak punya waktu banyak untuk itu. Entahlah.

“Aku harus ke luar kota hari ini, Naura. Akan ada rapat penting dengan klien di luar kota. Kupikir kau sudah tahu hal ini.”

“Aku tidak ingat kau pernah memberitahuku. Apa artinya kami akan merayakannya tanpa kehadiranmu? Aku sudah terlanjur menyiapkan semuanya. Bagaimana ini, Biru?”

“Apa boleh buat. Toh kita secara tidak langsung pagi ini sudah merayakannya dengan makan bersama ini, bukan?”

“Ya, tidak apa,” aku mengangkat bahu. Kecewa.

“Hei, kau terlihat sudah merindukanku bahkan sebelum aku pergi? Tenang saja, aku hanya tiga hari disana.” Aku mendengus. Mengacuhkan gurauan Biru.

***

(masih) Rabu, 4 Mei 2009.

Perayaan kelulusanku di Rumah Anak memang berjalan lancar meski tanpa kehadiran Biru. Semua anak tampak bahagia. Alya yang masih berusia 6 tahun bahkan meneteskan air mata saat aku menyampaikan kelulusanku. Ia terlihat sangat sedih, berdiri sendirian di pojok ruangan. Aku perlahan mendekatinya.

“Aku tidak mau kakak pergi,” katanya. Alya merupakan salah satu anak tunawicara disini. Selama ini kami berkomunikasi satu sama lain menggunakan bahasa isyarat.

“Kakak tidak akan pergi, Alya. Kakak akan tetap disini. Justru kakak akan punya lebih banyak waktu untuk bermain bersama Alya.”

Senyum Alya mengembang. Aku telah memutuskan untuk tetap berada di Rumah Anak. Mereka membuatku lebih hidup, lebih bermakna.

“Jadi kakak akan tinggal bersama kak Biru?” aku buru-buru menggeleng. “Tidak Alya, kakak tetap tinggal di rumah kakak. Tapi setiap hari kakak akan kemari, sayang.”

Alya adalah anak paling cerdas di Rumah Anak. Sayang, orang tuanya menelantarkannya begitu saja saat ia masih bayi. Jadilah Alya harus berada disini. Selain Alya, masih ada sekitar belasan anak yang juga ditinggalkan keluarga kandung mereka.

“Benar begitu kak?”

“Iya. Sudah, ayo kita makan kuenya. Kakak membuatnya spesial untuk kalian.” kataku sambil menarik tangan Alya untuk bergabung dengan anak-anak lain.

***

Kamis, 9 Juni 2009.

“Bagaimana menurutmu temanku tadi, Naura?” aku menoleh, menatap Biru yang sedang memegang kemudi di sampingku. “Maksudmu Ryan? Kelihatannya baik dan perhatian, kurasa. Ada apa?” tanyaku penuh curiga. Jangan-jangan ada yang Biru sembunyikan dariku.

“Tidak ada. Aku hanya bertanya pendapatmu tentang dia. Aku sama sekali tidak pernah melihatmu pergi berkencan dengan laki-laki manapun. Lagipula aku lihat ia tertarik padamu. Jadi, kupikir..”

“Apa?? Kau pikir apa, hah? Biru kau sungguh keterlaluan. Awas saja kalau kau berpikir macam-macam.” Aku memukul-mukul lengan kirinya yang bebas. “Aw, ish Naura tolong hentikan pukulanmu. Atau aku akan kehilangan keseimbanganku.” Biru tampak menghembuskan nafas lega setelah aku menurunkan tanganku. “Nah, begini lebih baik, bukan?”

“Ayo katakan apa yang kau pikirkan tadi hah? Lagipula kita bertemu Ryan karena pekerjaan kita, bukan?”

“Tidak, ya. Eh…” Biru menjawab dengan canggung, lantas menggaruk belakang kepalanya.

“Katakan yang jelas, ya atau tidak, Biru?”

“Oke, begini. Aku tidak berpikir apa-apa, aku hanya bercanda Naura. Kau saja yang menganggapnya serius. Dan, ya. Kita memang bertemu dengannya karena pekerjaan.”

“Aku tidak menyangka proyek kita ini akan lolos dengan mudah. Padahal aku sudah meragukannya dari awal. Ngomong-ngomong aku baru tahu kalau Ryan itu temanmu Biru.”

“Apa aku bilang, semua akan baik-baik saja bukan? Ah ya, Ryan teman SMAku dulu. Ngomong-ngomong, akhir minggu ini apa kau ada acara?” Biru memalingkan pandangannya padaku.

“Tidak, ada apa?”

“Kau mau kencan denganku?” Aku mengernyitkan dahi. Biru tampak sedang menunggu jawabanku.

“Haha kau membuatnya terdengar romantis, padahal kita hanya makan malam seperti biasa bukan?” Kami sudah sampai di depan rumahku kini. Biru menghentikan mobil, dan  alih-alih mengizinkan turun, ia malah berbalik menghadapku sekarang. Masih menunggu jawabanku atas ajakannya itu. “Jadi?”

“Oke. Aku tunggu jam 7 disini.”

***

Sabtu, 11 Juni 2009.

Kring kring.

Segera kusambar telepon genggamku. Kubuka flipnya dengan terburu-buru. “Bukankah kau bilang sejam lagi, biru. Ada apa menelepon?” jawabku asal. Aku masih sibuk memantas-mantaskan baju yang cocok untuk bertemu Biru. Akhirnya pilihanku jatuh pada gaun biru selutut. Tidak terlalu formal, tapi tetap elegan. Lagipula aku masih belum tahu Biru akan mengajakku ke tempat seperti apa.

“Naura?” suara di seberang terdengar bingung. Lho? Aku segera melihat layar ponselku. Bukan biru.

“Eh, maafkan aku. Kukira tadi temanku.”

“Tak apa. Ini Ryan. Masih ingat aku? Kita bertemu di rapat koordinasi proyek untuk rumah anak.”

“Oh, ya ya aku ingat tentu saja. Apa kabar?”

“Baik. Bagaimana denganmu?” Duk!

“Aduh!”

“Kau baik-baik saja Naura?”

“Ya, tenang saja. Hanya terbentur  lemari kecil, aku sedang mencari sepatuku.”

“Kau ada acara malam ini?”

“Ya, kenapa?”

“Kenapa tidak bilang dari tadi. Aku hampir saja merusak acaramu malam ini bukan? baiklah, aku tutup ya, besok aku telepon lagi oke. Selamat malam.”

Belum sempat berpikir banyak dengan kata-kata Ryan, terdengar ketukan pintu. Biru! Aku segera memakai sepatu dan berlari menuruni tangga menuju pintu depan.

“Hai. Sudah siap?” sapanya.

“Ya, tentu. Jadi kita mau kemana malam ini Biru? Ngomong-ngomong, dalam rangka apa kau mengajakku kencan? jangan bilang kau akhirnya tertarik denganku.” candaku asal ketika kami sudah duduk di dalam mobil.

“Rahasia. Kau hanya perlu duduk manis disitu. Itu peraturannya. Oke?”

“Oke, tapi setidaknya aku tidak perlu merasa penasaran sepanjang jalan Biru. Kau tahu aku tidak pernah merasa nyaman dengan perasaan itu.”

“Bisa kita berangkat sekarang Naura?” jawab Biru, mengacuhkan perkataanku.

“Ya, go ahead, please.”

Biru lebih banyak diam sepanjang perjalanan. Sepertinya ia sangat konsentrasi pada kemudinya.   Aku diam-diam memperhatikannya. “Nah, kita sudah sampai Naura.” aku tersentak. Tak sadar telah terlalu lama memandanginya meski aku merasa hanya sebentar. Biru beranjak keluar dari mobil. Ia dengan sopan membukakan pintu mobil di sebelahku. “Terima kasih.”

Tunggu, dimana ini? Aku memandang sekitar. Sebuah restoran bergaya klasik di tepi pantai. Suara deburan ombak terdengar sangat merdu di luarnya. Restoran ini sengaja menempatkan meja makan di luar. Menambah kesan berpadu dengan suasana pantai.

“Kau yakin kita akan makan disini Biru?”

“Tentu, kenapa tidak? Aku tahu kau sangat suka berada di pantai, bukan?” Biru menarik tanganku. Kami duduk di meja makan paling luar, dengan pemandangan paling indah. Tak lama kemudian seorang pelayan menghampiri kami untuk menanyakan pesanan kami. Setelah menyebutkan pesanan, pelayan itu berbalik pergi.

“Suasanya tenang sekali disini. Aku suka. Terima kasih, Biru.”

“Nah, kita baru saja datang kau bahkan sudah terkesan padaku.”

“Aku tidak terkesan padamu!”

“Aha?”

“Eh, itu.. oke, hanya sedikit terkesan. Itu karena aku memang merasa berterima kasih padamu, Biru.” Jawabku sambil menempelkan ibu jari dengan jari telunjuk. Biru hanya tersenyum.

Selesai makan malam Biru mengajakku duduk di atas pasir pantai. Melihat bintang-bintang. Malam ini benar-benar hebat. Aku merasa bersinar, seperti bintang yang bertaburan di atas sana. Begitu terang sinarnya tanpa ada awan yang menghalangi sinarnya. Apakah ini mimpi, Biru?

***

Minggu, 12 Juli 2009.

Terik matahari terasa sangat menyengat siang ini. Setelah sepanjang pagi membersihkan rumah, aku memutuskan pergi belanja ke supermarket dekat rumah. Persediaan makanan bulanan sudah habis. Mau tidak mau aku harus pergi belanja, bukan?

Aku berdiri cukup lama di rak bagian jus buah. Jus jeruk atau jus stroberi ya?

“Jus jeruk saja. Aku lebih enak jus jeruk, Naura” Eh, suara siapa barusan. Apakah barusan aku menyuarakan pikiranku? Aku menoleh ke orang di sampingku. “Ryan?” Dia tersenyum lebar. Senyum yang bahkan bisa membuat siapapun meleleh karena melihatnya. Begitulah menurutku sekilas.

“Hai, Naura. Kebetulan sekali bukan kita bertemu disini?”

“Rumahmu dekat sini Ryan?” aku masih belum mengerti mengapa aku bisa bertemu dengannya disini.

“Ya. Aku baru pindah ke daerah ini minggu lalu. Aku bahkan belum sempat memberi tahu Biru. Apa kau juga tinggal di daerah ini?”

“Ya, rumahku hanya satu blok dari sini. Kau mau mampir?”

“Sungguh? dengan senang hati Naura. Aku sangat bosan hanya duduk-duduk di rumah pada hari minggu. Wah ini kebetulan yang menakjubkan.”

***

Rabu, 20 Januari 2010.

Sejak hari pertemuanku dengan Ryan di supermarket, kami semakin dekat. Ryan benar-benar tipe orang yang sangat perhatian, dan romantis kurasa. Kami sering menghabiskan akhir minggu bersama. Tidak jarang ketika makan malam Ryan memberiku setangkai bunga maWar. Hal yang nampak tidak mungkin dilakukan oleh Biru. Mana mungkin Biru yang cuek akan melakukan hal itu, bukan?

Aku tidak pernah menceritakan soal kedekatanku dengan Ryan pada Biru. Akhir-akhir ini dia sangat sibuk. Aku juga semakin jarang bertemu dengannya di Rumah Anak. Kami hanya sesekali bertemu. Pun untuk sekadar mengajaknya makan siang, beh, sulitnya minta ampun. Tapi tidak hari ini. Biru mengambil cuti kerja hari ini. Aku juga tidak tahu mengapa. Mungkin ia hanya ingin menghabiskan Waktu sehari bersama anak-anak. Kurasa sudah cukup lama ia tidak melakukannya.

“Naura, kau ada waktu siang ini? sudah lama aku tidak makan seafood dan aku tahu ada restoran baru dekat sini. Kau mau menemaniku?” Biru menghampiri meja kerjaku. Aku melirik jam tangan Eiffelku. Aku memang penggila The City of Light, Paris. Aku selalu bermimpi aku akan terbang ke Paris untuk mengambil pendidikan S2, atau, dalam fantasiku, akan ada seseorang yang bersimpuh di depanku sambil berkata “Will you marry me?” tepat di hadapan si Eiffel. Aku tersenyum membayangkannya.

“Naura, kenapa kau senyum-senyum begitu?” Biru melambai-lambaikan tangannya di depan Wajahku. Aku mengerjapkan mata, baru tersadar. Sepuluh menit lagi Waktunya makan siang.

“Aku ingin makan masakanmu saja, Biru. Sudah lama kau tak memasak.”

“Bahan makananku habis Naura. Kita tak bisa memasak sekarang. Bagaimana kalau nanti malam? aku janji akan memasakkanmu makanan spesial.”

“Tapi aku tak bisa, Biru. Aku sudah berjanji pergi makan malam dengan.. eh.. dengan Ryan.” jaWabku ragu-ragu. Aku belum terbiasa menyebut nama Ryan di depan Biru.

“Ryan? Sejak kapan kalian makan malam bersama? bahkan kalian tega tak memberi tahu hubungan kalian. Jadi apa saja yang sudah terjadi di belakangku selama ini?” canda Biru. Dan aku mau tidak mau menceritakan semuanya dari awal, bukan?

Biru tersenyum menanggapi ceritaku. Tak berkomentar banyak. Kenapa Biru menanggapinya dengan santai? tak merasa keberatankah ia kalau aku bersama Ryan? Aku menggelengkan kepalaku. Apa yang terjadi denganku? mengapa aku bisa berpikiran seperti itu, huh. Aku bahkan tak punya alasan untuk bisa berpikir seperti itu.

“Baiklah, ayo kita pergi sekarang Biru. Aku sudah sangat lapar!” aku berjalan keluar ruangan, meninggalkan Biru yang mungkin kebingungan mengapa aku kesal.

Ternyata kekesalanku tidak berakhir disitu. Sepanjang makan siang  justru Biru sibuk bercerita tentang Ryan, Ryan, dan Ryan. Aku hanya ber-oh panjang menanggapi kata-katanya. “Bagaimana pekerjaanmu? kelihatannya kau sangat sibuk beberapa bulan ini Biru?” aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Baik-baik saja. Tidak ada masalah. Ngomong-ngomong kau tahu tidak kalau dulu Ryan..” blablabla. Usahaku mengalihkan pembicaraan gagal. Oke. Satu-satunya cara agar dia berhenti membicarakan Ryan adalah mempercepat makan siang kami.

“Aku selesai makan. Ayo kembali ke Rumah Anak, Biru. Pekerjaanku masih banyak hari ini.” Yap, berhasil.

***

Selasa, 9 Maret 2010.

Dua hari yang lalu Biru mengunjungi ibunya. Sekembalinya dari sana, Biru nampak berbeda. Ia  mendadak jadi pendiam dan sering melamun. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Ia masih belum mau menceritakannya padaku. Usai menyelesaikan pekerjaanku di Rumah Anak, Biru mengajakku makan malam. Kali ini Biru memasak udang saus tiram. “Nampaknya enak.” Aku membuka suara. Sejak tadi Biru masih diam, tak tertarik mengobrol. Jadilah selama makan kami hanya diam.

“Ibu akan menjodohkanku dengan anak perempuan teman beliau, Naura.” Aku tersedak mendengarnya. Biru menyodorkan air minum padaku, “maaf..” aku menggelengkan kepala. “Teruskan saja..” aku menyudahi makanku. Entah kenapa selera makanku menguap begitu saja.

“Kau tahu benar aku tidak akan menolak apapun yang Ibu inginkan, bukan? Maaf aku baru memberitahukanmu.”

“Untuk apa kau meminta maaf? Tidak ada yang salah disini. Aku senang kau mau mendengar keinginan Ibu. Hei, sebentar lagi kau akan bersanding. Kau seharusnya senang, kau tahu?”

Aku menarik nafas dalam-dalam. Entahlah, aku sadar itu bohong. Aku tidak baik-baik saja. Entah mengapa aku merasa seolah dadaku tertikam saat mendengar perkataan Biru. Aku jelas-jelas bukan pacarnya, lalu mengapa aku merasakan sakitnya. Aku tidak bisa berlama-lama disini. Pandanganku mulai kabur karena air mata yang menggenang. Aku jelas tidak mungkin  meneteskan air mata disini. Tidak boleh.

“Eh, aku.. Aku harus pergi sekarang, Biru. Sampai jumpa.” Aku meninggalkan Biru yang masih terdiam. Tak peduli ia bingung akan sikapku. Mungkin selama ini ia menganggap aku baik-baik saja dengan Ryan. Karena aku memang sengaja bersikap seperti itu. Tapi kini aku tahu itu salah. Tidak seharusnya aku membohongi mereka. Membohongi diriku sendiri. Bahkan aku harus kehilangan Biru tanpa pernah memilikinya.

Aku mempercepat jalanku, berusaha menghindari tetes air yang sedikit demi sedikit tumpah dari langit. Tak peduli pada kakiku yang terlalu lelah berjalan. Aku menekan dadaku untuk meringankan sakit yang kurasa. Aku tahu bagaimana rasanya terjatuh dari mimpi yang terjalin begitu indah selama ini. Sakit rasanya.

Aku jatuh terduduk di trotoar taman kota di tengah guyuran hujan yang semakin deras, seolah langit hendak menyamarkan air mataku. Aku masih menunduk, terisak ketika aku tak lagi merasakan tetesan air hujan dan melihat sepasang kaki seseorang di depanku. Ryan. Ia lantas berjongkok, berusaha menyejajarkan pandangannya denganku.

“Kau tidak apa-apa Naura?” aku menggeleng dengan cepat. Mana mungkin aku tidak apa-apa. Namun aku sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara. Ia mengusap bahuku. Lantas membimbingku berjalan menuju mobilnya. Sepanjang perjalanan pulang ia membiarkanku diam. Ia hanya sedikit menjelaskan bahwa ia dalam perjalanan pulang dari kantor ketika ia melihatku terduduk di trotoar.

Sesampainya di rumah, Ryan tak berbicara banyak. Ia mengantarku sampai pintu. Nampaknya ia mengerti kalau aku membutuhkan waktu sendiri. Meskipun ia belum tahu apa masalahnya. Ia sungguh menghormatiku.

“Aku tak tahu apa masalahmu hingga kau begini. Tapi kuharap kau tahu kau selalu punya aku untuk membagi masalahmu. Apapun itu. Kau bisa menceritakannya kapan saja, kau mengerti?” Aku hanya mengangguk lemah. Ryan hampir berbalik pergi ketika sepertinya ia akan menyampaikan sesuatu. Ia menggaruk kepalanya, lantas menatapku.

“Dan, eh.. aku tahu ini bukan saat yang tepat, tapi aku hanya ingin kau tahu kalau aku peduli padamu. Aku akan selalu datang kalau kau minta. Karena aku menyukaimu, Naura. Sungguh.” Aku sungguh tak menyangka ia akan mengatakannya. Oh, dear aku mohon cukup sudah kejutan hari ini. Aku hanya menatapnya tanpa arti. Antara terkejut, bingung, dan… entahlah.

***

Rabu, 20 November 2013.

Aku sedikit menggigil saat membuka pintu rumah. Angin dingin masih mampu menembus baju hangatku. Aku menggosok-gosok tanganku yang bersarung tangan. Baru beberapa menit berjalan, aku tertegun. Lantas menghembuskan nafas yang menjadi uap di tengah hawa dingin. Butiran lembut berwarna putih satu per satu jatuh. Aku mendongak. Salju pertama yang turun di hari ulang tahunku. Malam yang indah, salju begitu putih. Jalanan mulai tertutup salju. Aku meneruskan perjalananku. Aku harus bergegas atau aku akan ketinggalan metro menuju pusat kota. Ya, disinilah aku sekarang, The City of Light, Paris. Aku berhasil mendapatkan beasiswa pendidikan di University of la Rochelle untuk gelar master psikologiku.

Aku sangat patah hati saat Biru menyampaikan kabar pertunangannya. Sejak saat itu aku tidak pernah mau menemui Biru. Bulat sudah keputusanku untuk meninggalkan Biru dan berlari sejauh mungkin darinya. Sangat berat memang. Terlebih dengan resiko aku juga harus keluar dari Rumah Anak. Aku memutuskan mencari beasiswa yang bisa membawaku ke Paris. Dan, Voila! Aku berhasil.

Ryan? Aku memang tak menyangka ia bisa menyatakan hal seperti itu padaku. Waktu itu hanya satu yang terpikir olehku, rasa bersalah. Karena aku sama sekali tidak merasakan apapun ketika berada di samping Ryan. Malam itu juga akhirnya aku sampaikan padanya alasanku menangis. Alasan mengapa aku merasa kacau. Aku ceritakan semua detailnya. Hingga di ujung ceritaku, ia hanya tersenyum dengan wajah teduhnya itu.

Oh, dear. Aku sudah terlambat sepuluh menit. Aku bergegas turun dari metro. Hawa dingin kembali menyambutku di luar metro. Aku berjalan agak cepat. Butuh waktu lima menit untuk sampai di lokasi yang kutuju. Ah, itu dia! Tepat di bawah Eiffel yang berdiri dengan anggun.

“Biru!”

Ya, aku memang pergi menemui Biru malam ini. Pertunangan Biru dibatalkan tepat setelah aku terbang ke Paris. Perempuan itu menolak pertunangan itu dilanjutkan. Ternyata diam-diam dia masih berhubungan dengan pacarnya.

Aku hanya memberi tahu Ryan mengenai kepergianku, dan memintanya untuk merahasiakannya dari Biru. Jadilah kami kehilangan kontak satu sama lain. Tapi nyatanya Tuhan berkata lain. Kami kebetulan bertemu disini musim panas lalu. Kebetulan Biru sedang menjalani pelatihan yang diadakan perusahaannya di Paris. Kami bertemu di sebuah rumah makan sederhana di sudut kota Paris. Aku melihatnya sedang makan siang sendirian. Ia duduk di meja makan yang paling dekat dengan kaca. Saat itu aku segera menyadari bahwa usahaku untuk pergi dari Biru sia-sia. Lihatlah, bahkan dari kejauhan pun aku segera tahu bahwa sosok itu adalah Biru. Aku tak kuasa untuk menyapanya seketika itu juga. Kesan pertamaku, Biru tak berubah. Kami mengobrol layaknya tak ada masalah yang terjadi sebelumnya diantara kami.

“Naura. Kenapa kau terlambat? Sudah kubilang aku lebih baik menjemputmu.” Biru mengomel. Masih sama, selalu mengomel. “Tidak apa Biru. Sudahlah berhentilah mengomeliku. Kau bilang ada yang ingin kau sampaikan?”

Dan, semuanya berlangsung begitu cepat. Adegan itu berjalan persis seperti khayalku. Biru bersimpuh di hadapanku, menatap mataku dalam-dalam. “Will you marry me,  Naura?” Disaksikan kemegahan Eiffel, sungai Seine yang jernih, putihnya salju, dan Biru. Aku tak akan melupakan kombinasi ini.

Bagaimana bisa. Apakah ini mimpi, Biru? Biru menatapku heran. “Apakah ini mimpi, Biru?”

“Tidak. Sama sekali tidak Naura. Will you marry me?” Biru mengulangi pernyataannya. Aku mengangguk kencang-kencang. “Sure.” Senyum Biru mengembang. Senyum yang membuatku hanya melihatnya. Memang benar kata orang, hakikat memiliki adalah melepaskan.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s